pgsd.umsida.ac.id — Pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa SD semakin ditekankan dalam pembelajaran harian karena keterampilan ini membantu anak memahami informasi, membedakan fakta dan opini, serta mengambil keputusan sederhana secara logis.
Upaya ini melibatkan guru, siswa, dan orang tua, dilakukan di kelas dan rumah melalui diskusi terarah, tugas berbasis masalah, dan refleksi singkat, dengan tujuan membentuk kebiasaan bertanya “mengapa” dan “bagaimana” sejak dini tanpa membuat belajar terasa berat.
Berpikir Kritis di SD Itu Sederhana Tapi Harus Dibiasakan
Banyak orang mengira berpikir kritis terlalu “berat” untuk anak SD. Padahal, bentuknya justru sangat dekat dengan keseharian: anak mampu menjelaskan alasan, mencari hubungan sebab-akibat, dan tidak sekadar meniru jawaban. Masalahnya, budaya belajar di kelas sering lebih menekankan “cepat benar” daripada “paham alasan”.
Di SD, berpikir kritis bisa dimulai dari kemampuan dasar: mengamati, membandingkan, mengelompokkan, menyimpulkan, dan mengevaluasi.
Misalnya saat membaca cerita, siswa tidak hanya diminta menyebutkan tokoh, tetapi juga menjelaskan mengapa tokoh mengambil keputusan tertentu dan apa akibatnya.
Saat pelajaran IPA, siswa tidak hanya menghafal sifat benda, tetapi menebak apa yang akan terjadi jika variabelnya diubah.
Jika sekolah ingin serius, targetnya bukan membuat anak “debat”, melainkan membuat anak terbiasa menalar.
Kebiasaan itu lahir dari rutinitas kecil: memberi ruang bertanya, menghargai alasan, dan melatih anak menyampaikan pendapat dengan kalimat sederhana.
Strategi Pembelajaran yang Efektif di Kelas

Sumber: Pexels
Pengembangan berpikir kritis membutuhkan desain pembelajaran, bukan sekadar slogan. Ada beberapa strategi yang bisa dipakai guru SD tanpa mengorbankan capaian kurikulum.
Pertama, ubah pola pertanyaan. Jangan berhenti pada pertanyaan “apa” dan “siapa”. Tambahkan pertanyaan “mengapa”, “bagaimana kamu tahu”, dan “apa buktinya”.
Contohnya: “Mengapa kamu memilih jawaban itu?” atau “Kalau kondisinya berbeda, apakah jawabannya tetap sama?” Pertanyaan seperti ini memaksa siswa menyusun alasan, bukan menebak.
Kedua, gunakan diskusi kecil dan think-pair-share. Guru memberi masalah sederhana, siswa berpikir sendiri 1 menit, lalu berpasangan untuk membandingkan jawaban, setelah itu beberapa pasangan menyampaikan hasilnya.
Pola ini membuat siswa berani, karena mereka “latihan” dulu sebelum bicara di depan.
Ketiga, terapkan tugas berbasis masalah (problem-based) skala mikro.
Tidak perlu proyek besar. Misalnya: “Kelas kita sering berisik saat antre. Bagaimana solusinya?” atau “Kalau tanaman di taman sekolah layu, apa penyebab paling mungkin dan apa langkah pertama yang harus dilakukan?” Tugas seperti ini melatih identifikasi masalah, pilihan solusi, dan alasan memilih solusi.
Keempat, latih literasi data sederhana. Anak SD bisa mulai dari tabel, gambar, dan grafik sangat dasar. Guru dapat menanyakan: “Data mana yang paling tinggi? Apa yang kamu simpulkan? Apakah kesimpulanmu pasti benar, atau ada kemungkinan lain?” Ini membangun kebiasaan membaca informasi sebelum membuat klaim.
Kelima, biasakan refleksi singkat. Di akhir pelajaran, siswa menulis 2–3 kalimat: “Hal baru yang saya pelajari”, “Bagian yang masih membingungkan”, dan “Pertanyaan saya hari ini”.
Refleksi ini memperkuat metakognisi anak sadar proses berpikirnya sendiri.
Peran Orang Tua dan Evaluasi Agar Tidak Sekadar Teori
Upaya di sekolah akan lebih kuat jika didukung di rumah. Orang tua tidak perlu mengajari materi, tapi perlu mengubah cara berkomunikasi.
Anak yang terbiasa ditanya “kenapa kamu berpikir begitu?” akan terdorong menyusun alasan.
Saat anak bercerita, orang tua bisa menanyakan: “Menurut kamu, itu fakta atau pendapat?” atau “Kalau kamu jadi tokohnya, kamu akan memilih apa, dan kenapa?”
Namun ada risiko yang sering diremehkan: berpikir kritis bisa “mati” kalau lingkungan menghukum pertanyaan.
Jika siswa bertanya lalu dianggap mengganggu, anak akan belajar bahwa diam lebih aman. Karena itu, guru dan orang tua harus konsisten: pertanyaan dihargai, tetapi tetap diarahkan agar tidak melebar dan tetap sopan.
Evaluasinya juga harus tepat. Mengukur berpikir kritis tidak cukup dengan soal pilihan ganda.
Guru bisa memakai rubrik sederhana: (1) apakah siswa memberi alasan, (2) apakah alasannya relevan, (3) apakah siswa menggunakan bukti dari teks/observasi, (4) apakah siswa mampu mempertimbangkan alternatif. Rubrik ini tidak rumit, tetapi membuat guru fokus pada proses, bukan sekadar hasil akhir.
Pada akhirnya, pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa SD adalah investasi perilaku belajar.
Target utamanya jelas: anak mampu menalar, tidak mudah percaya informasi mentah, dan berani menyampaikan pendapat dengan alasan.
Kalau sekolah menanamkannya lewat kebiasaan kecil setiap hari bertanya, berdiskusi, memecahkan masalah, dan refleksi maka berpikir kritis tidak akan menjadi materi tambahan, melainkan budaya belajar yang melekat.
Penulis: Nabila Wulyandini














