pgsd.umsida.ac.id — Sebanyak sepuluh mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) resmi dilepas untuk mengikuti program magang di Wijaba.
Kesepuluh mahasiswa tersebut adalah Nur Hadiana Firdian Oktaviani, Sabilah Firdausy Ramadhani, Muhammad Hilmi Alfathan, Brilliant Dina Arizki Rustia Arum, Inayatus Safinah, Salsabilah Nur Fitri, Nuril Hidayah, Achmad Firman Ridhoi, Chalishah Zuhroh, serta Shela Olivia Amanda Putri.
Pelepasan berlangsung di ruang rapat Kampus 1 Umsida.
Program magang ini merupakan bagian dari kerja sama yang telah terjalin antara Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP) Umsida dan Wijaba selama beberapa tahun terakhir.
Melalui skema tersebut, mahasiswa PGSD memperoleh ruang praktik yang lebih luas, bukan hanya untuk mengasah keterampilan mengajar, tetapi juga memperkuat kapasitas komunikasi, kolaborasi, dan kepemimpinan yang dibutuhkan calon guru sekolah dasar.
Bagi PGSD, magang menjadi jembatan penting antara teori perkuliahan dan realitas pembelajaran di masyarakat. Mahasiswa akan berlatih menyusun rencana kegiatan, menjalankan pendampingan, melakukan observasi kebutuhan belajar, hingga menyusun laporan hasil.
Proses ini menuntut kedisiplinan, ketangguhan, serta kemampuan menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi sasaran, karena lapangan sering menghadirkan situasi yang tidak selalu sesuai skenario kelas.
Kerja Sama yang Terus Berkembang

Dekan FPIP Umsida, Dr. Septi Budi Sartika, M.Pd, menyampaikan bahwa kerja sama dengan Wijaba telah memberikan manfaat nyata bagi penguatan kompetensi mahasiswa.
Menurutnya, program yang pada awalnya berfokus pada pendidikan kini berkembang dan menyentuh bidang lain seperti lingkungan dan kesehatan.
Perluasan ruang belajar ini dinilai relevan karena pendidikan dasar tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan kualitas lingkungan belajar, kebiasaan hidup sehat, serta dukungan komunitas.
“Mahasiswa yang mengikuti program ini tidak hanya memperoleh pengetahuan di bidang pendidikan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk belajar langsung dalam bidang lain yang sangat relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa proses seleksi dilakukan secara ketat melalui tahap administrasi dan wawancara, sehingga peserta yang lolos diharapkan mampu menjaga etika, profesionalitas, dan nama baik prodi selama menjalani magang.
Dalam konteks PGSD, kerja sama ini memperkuat orientasi pembelajaran berbasis pengalaman. Mahasiswa tidak hanya menambah jam terbang, tetapi juga belajar memetakan masalah pembelajaran, merancang intervensi sederhana, dan mengevaluasi dampak kegiatan.
Pengalaman semacam ini penting untuk membentuk calon guru yang reflektif, yaitu mampu menilai efektivitas tindakan mengajar dan memperbaiki pendekatan ketika hasil belajar belum optimal.
“Kami berharap mereka dapat membawa banyak pengalaman dan kontribusi bagi program magang ini dan memajukan nama prodi PGSD, FPIP, serta Umsida,” tutup Dr. Septi.
Bali Menjadi Destinasi Magang Untuk Mahasiswa PGSD
Tahun ini, program magang Wijaba menghadirkan hal baru dengan melibatkan dua peserta yang akan ditempatkan di Bangli, Bali.
Skema penempatan lintas daerah tersebut membuka kesempatan bagi mahasiswa PGSD untuk memperluas wawasan tentang keragaman budaya, bahasa, dan pola komunikasi sosial yang berbeda dari lingkungan asal.
Pengalaman ini sekaligus melatih sensitivitas calon guru dalam menghadapi karakter peserta didik dan masyarakat yang beragam.
Country Director Wijaba, Arif Darmawan, menegaskan bahwa pembelajaran lapangan memberi nilai tambah karena mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi langsung berhadapan dengan tantangan nyata.
“Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa dalam berinteraksi dengan berbagai karakter dan kondisi,” ungkap Arif.
Menurutnya, proses adaptasi di lokasi baru akan memperkaya cara pandang mahasiswa terhadap pendidikan dasar, terutama dalam membangun relasi yang sehat dengan anak, guru, dan komunitas.
Untuk membantu adaptasi, Wijaba menyiapkan sistem mentoring yang mencakup bimbingan dari program manager dan regional manager di Bali.
Pendampingan ini dirancang agar mahasiswa memahami ritme kerja, standar program, dan strategi membangun kolaborasi dengan sekolah serta komunitas setempat.
Dengan pendampingan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu bekerja terarah dan memastikan kegiatan berjalan sesuai tujuan. Evaluasi berkala juga dilakukan untuk menjaga kualitas program.
Arif menegaskan orientasi magang adalah dampak, bukan sekadar pemenuhan tugas.
“Mahasiswa diharapkan bukan hanya memperoleh profesi, tetapi juga memberikan kontribusi yang berarti bagi perubahan pendidikan nasional di Indonesia,” katanya.
Melalui magang ini, mahasiswa PGSD Umsida memiliki ruang untuk mengembangkan diri di luar perkuliahan formal, mengasah kompetensi yang dibutuhkan di sekolah dasar, serta membuktikan bahwa calon guru dapat hadir membawa solusi yang kontekstual dan bermanfaat.
Penulis: Nabila Wulyandini














