pgsd.umsida.ac.id — Perayaan Hari Raya Natal tidak hanya dimaknai sebagai momen keagamaan, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
“Natal itu mengajarkan kita untuk belajar mengasihi, memberi semangat untuk memperbaiki diri, serta menguatkan hubungan dengan keluarga dan orang-orang terdekat,” ungkap Elizabeth.
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Menurut Liza, ada tiga nilai utama yang selalu ia rasakan setiap kali Natal tiba, yakni pembaruan hati, harapan, dan kehangatan keluarga.
Pembaruan hati yang dimaksud bukan hanya berkaitan dengan relasi manusia dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana seseorang memperbaiki sikap dan hubungan sosialnya.
Natal menjadi momen untuk menata ulang niat hidup, memperkuat empati, dan menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama.
Nilai Kasih Natal sebagai Perekat Persaudaraan
Dalam kehidupan berbangsa yang majemuk, Liza memandang perayaan Natal dapat menjadi sarana penting untuk mempererat persaudaraan antarumat beragama.
Baginya, Natal tidak hanya dipahami sebagai perayaan keagamaan bagi umat Kristiani, tetapi juga momentum sosial yang menghadirkan ruang perjumpaan, dialog, dan kepedulian lintas iman.
Ia menilai nilai kasih dan saling menghargai yang diajarkan dalam Natal bersifat universal, sehingga dapat diterima oleh siapa saja tanpa harus mengubah keyakinan masing-masing.
“Natal bisa jadi momen untuk saling memberi ucapan selamat, berkunjung, dan menunjukkan perhatian,” sebutnya.
Ia menambahkan, “Dari situ orang bisa merasa dihargai meskipun berbeda keyakinan,” tuturnya.
Menurut Liza, gestur sederhana seperti menyapa tetangga, mengirim pesan singkat, atau hadir sebentar dalam silaturahmi dapat memecah jarak psikologis yang sering muncul akibat prasangka.
Ketika orang merasa dihargai, komunikasi menjadi lebih hangat, dan perbedaan lebih mudah dikelola secara dewasa.
Liza menekankan bahwa interaksi semacam itu mampu menumbuhkan rasa saling memahami dan memperkuat toleransi di tengah perbedaan.
Ia melihat toleransi bukan sekadar sikap pasif “membiarkan,” melainkan tindakan aktif untuk menjaga hubungan baik, menghormati batas, serta peka terhadap kebutuhan sosial orang lain.
Dalam pandangannya, kerukunan tidak lahir dari slogan, tetapi dari kebiasaan sosial yang konsisten dan berulang.
Ia juga menilai bahwa praktik saling mengucapkan selamat atau berkunjung harus dilakukan dengan etika, tanpa paksaan, dan tetap menghormati keyakinan masing-masing.
Bagi Liza, yang terpenting adalah niat membangun relasi baik sebagai warga negara: menjaga tutur kata, menghindari ujaran yang merendahkan, serta memberi ruang aman bagi setiap orang untuk menjalankan ibadahnya.
Sikap ini memperkuat kepercayaan sosial di lingkungan keluarga, kampus, tempat kerja, dan komunitas sekitar sehari-hari.
Karena itu, ia menegaskan sikap saling menghormati, toleransi, keterbukaan, dan kemauan untuk memahami sudut pandang yang berbeda sebagai fondasi utama menjaga harmoni antarumat beragama di Indonesia.
Jika nilai-nilai ini terus dipraktikkan, Liza percaya persaudaraan lintas iman akan makin kuat dan kehidupan bersama di masyarakat dapat berjalan lebih damai.
Harapan untuk Bangsa Indonesia
Dalam lingkup keluarga, Natal juga menjadi momen kebersamaan yang sangat dinanti.
Liza mengungkapkan bahwa tradisi yang selalu dilakukan bersama keluarganya adalah berkumpul dengan keluarga besar, makan bersama, serta meluangkan waktu untuk berdoa bersama.
Tradisi tersebut menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan yang mempererat ikatan keluarga.
Menutup wawancara, Liza menyampaikan harapannya bagi bangsa Indonesia di momen Natal tahun ini.
Ia berharap masyarakat Indonesia dapat terus menjaga kerukunan di tengah keberagaman, saling menghargai perbedaan, serta memperkuat persatuan.
“Semoga Indonesia menjadi negara yang damai, rukun, dan saling peduli satu sama lain,” pungkasnya.
Perayaan Natal menjadi pengingat bahwa nilai kasih, toleransi, dan persatuan adalah kunci dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
Penulis: Zakhfa
Editor: Nabila Wulyandini















![IMG-20250222-WA0017[1] pgsd](https://pgsd.umsida.ac.id/wp-content/uploads/2025/02/IMG-20250222-WA00171-150x150.jpg)

