nilai

Nilai Kasih Natal 2025 sebagai Perekat Persaudaraan Antarumat Beragama

pgsd.umsida.ac.id — Perayaan Hari Raya Natal tidak hanya dimaknai sebagai momen keagamaan, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

“Natal itu mengajarkan kita untuk belajar mengasihi, memberi semangat untuk memperbaiki diri, serta menguatkan hubungan dengan keluarga dan orang-orang terdekat,” ungkap Elizabeth.

Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Menurut Liza, ada tiga nilai utama yang selalu ia rasakan setiap kali Natal tiba, yakni pembaruan hati, harapan, dan kehangatan keluarga.

Pembaruan hati yang dimaksud bukan hanya berkaitan dengan relasi manusia dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana seseorang memperbaiki sikap dan hubungan sosialnya.

Natal menjadi momen untuk menata ulang niat hidup, memperkuat empati, dan menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama.

Nilai Kasih Natal sebagai Perekat Persaudaraan

Nilai

Dalam kehidupan berbangsa yang majemuk, Liza memandang perayaan Natal dapat menjadi sarana penting untuk mempererat persaudaraan antarumat beragama.

Baginya, Natal tidak hanya dipahami sebagai perayaan keagamaan bagi umat Kristiani, tetapi juga momentum sosial yang menghadirkan ruang perjumpaan, dialog, dan kepedulian lintas iman.

Ia menilai nilai kasih dan saling menghargai yang diajarkan dalam Natal bersifat universal, sehingga dapat diterima oleh siapa saja tanpa harus mengubah keyakinan masing-masing.

“Natal bisa jadi momen untuk saling memberi ucapan selamat, berkunjung, dan menunjukkan perhatian,” sebutnya.

Ia menambahkan, “Dari situ orang bisa merasa dihargai meskipun berbeda keyakinan,” tuturnya.

Menurut Liza, gestur sederhana seperti menyapa tetangga, mengirim pesan singkat, atau hadir sebentar dalam silaturahmi dapat memecah jarak psikologis yang sering muncul akibat prasangka.

Ketika orang merasa dihargai, komunikasi menjadi lebih hangat, dan perbedaan lebih mudah dikelola secara dewasa.

Liza menekankan bahwa interaksi semacam itu mampu menumbuhkan rasa saling memahami dan memperkuat toleransi di tengah perbedaan.

Ia melihat toleransi bukan sekadar sikap pasif “membiarkan,” melainkan tindakan aktif untuk menjaga hubungan baik, menghormati batas, serta peka terhadap kebutuhan sosial orang lain.

Dalam pandangannya, kerukunan tidak lahir dari slogan, tetapi dari kebiasaan sosial yang konsisten dan berulang.

Ia juga menilai bahwa praktik saling mengucapkan selamat atau berkunjung harus dilakukan dengan etika, tanpa paksaan, dan tetap menghormati keyakinan masing-masing.

Bagi Liza, yang terpenting adalah niat membangun relasi baik sebagai warga negara: menjaga tutur kata, menghindari ujaran yang merendahkan, serta memberi ruang aman bagi setiap orang untuk menjalankan ibadahnya.

Sikap ini memperkuat kepercayaan sosial di lingkungan keluarga, kampus, tempat kerja, dan komunitas sekitar sehari-hari.

Karena itu, ia menegaskan sikap saling menghormati, toleransi, keterbukaan, dan kemauan untuk memahami sudut pandang yang berbeda sebagai fondasi utama menjaga harmoni antarumat beragama di Indonesia.

Jika nilai-nilai ini terus dipraktikkan, Liza percaya persaudaraan lintas iman akan makin kuat dan kehidupan bersama di masyarakat dapat berjalan lebih damai.

Harapan untuk Bangsa Indonesia

Nilai

Dalam lingkup keluarga, Natal juga menjadi momen kebersamaan yang sangat dinanti.

Liza mengungkapkan bahwa tradisi yang selalu dilakukan bersama keluarganya adalah berkumpul dengan keluarga besar, makan bersama, serta meluangkan waktu untuk berdoa bersama.

Tradisi tersebut menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan yang mempererat ikatan keluarga.

Menutup wawancara, Liza menyampaikan harapannya bagi bangsa Indonesia di momen Natal tahun ini.

Ia berharap masyarakat Indonesia dapat terus menjaga kerukunan di tengah keberagaman, saling menghargai perbedaan, serta memperkuat persatuan.

“Semoga Indonesia menjadi negara yang damai, rukun, dan saling peduli satu sama lain,” pungkasnya.

Perayaan Natal menjadi pengingat bahwa nilai kasih, toleransi, dan persatuan adalah kunci dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis di tengah keberagaman bangsa Indonesia.

Penulis: Zakhfa

Editor: Nabila Wulyandini

Bertita Terkini

PKM AI
Mahasiswa PGSD Umsida Lolos PKM AI dengan Media Ular Tangga
May 26, 2026By
Dr-Septi
Dr Septi Umsida Sebut Mutu Pendidikan Butuh Kejujuran Guru
May 21, 2026By
PGSD Umsida
PLP 1 PGSD Umsida Ungkap Praktik Pendidikan Kreatif SD Muda
May 15, 2026By
Mahasiswa PGSD
Mahasiswa PGSD Umsida Temukan Kultur Sekolah Inklusif di Mojokerto
May 12, 2026By
Porong
Mahasiswa PGSD Umsida Dalami Budaya Sekolah Melalui PLP 1 Porong
May 8, 2026By
Sekolah Dasar
PGSD Hadapi Tuntutan Baru Pendidikan Dasar Digital untuk Sekolah Dasar
May 5, 2026By
Hima PGSD
Hima PGSD Umsida Ajak Mahasiswa Maknai Hardiknas 2026
May 2, 2026By
HIMA PGSD
Hima PGSD Umsida Perkuat Literasi Jurnalistik Organisasi
April 28, 2026By

Prestasi

PKM AI
Mahasiswa PGSD Umsida Lolos PKM AI dengan Media Ular Tangga
May 26, 2026By
Paku Bumi
Zulfan Tampil di Paku Bumi Open 2026 Yogyakarta
April 21, 2026By
Ikmal Syarif Raih Juara Dua Paku Bumi Open 2026
April 14, 2026By
Medali Perak
Medali Perak Ju-Jitsu Open Piala Koni Kabupaten Mojokerto: Jehan Aldama Raih Penghargaan
January 20, 2026By
UPSCC III
Anaa Raih Perunggu Tanding Kelas C di UPSCC III 2025 UNESA
January 6, 2026By
unesa
Ikmal Syarif, mahasiswa Program Studi PGSD semester 5 yang aktif di Tapak Suci Umsida, menghadapi tantangan besar saat mengikuti kompetisi UPSSC III 2025 yang digelar di GOR Internasional UNESA.
January 2, 2026By
pencak silat
Raih Juara 2 di UNESA Pencak Silat Challenge Competition 3, Dana Bagus Prastyo Buktikan Konsistensi
December 30, 2025By
Deisyah
Deisyah Amalia Rawethi Raih Medali Perak, Buktikan Kemampuan di Ajang Nasional
September 16, 2025By