pgsd.umsida.ac.id — Divisi Pendidikan dan Kebudayaan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menggelar Pelatihan Dasar Jurnalistik pada Selasa, 21 April 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang GKB 7 Lantai 3 Kampus 3 Umsida ini diikuti oleh Ketua Hima PGSD, jajaran pengurus, serta anggota Hima PGSD periode 2025–2026.
Pelatihan ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat kemampuan fungsionaris dalam menulis artikel berita secara sistematis, informatif, dan profesional.
Melalui kegiatan tersebut, Hima PGSD ingin memastikan setiap program kerja organisasi tidak hanya selesai dilaksanakan, tetapi juga terdokumentasikan dengan baik dalam bentuk tulisan yang dapat dibaca oleh publik.
Urgensi pelatihan ini muncul dari kebutuhan organisasi dalam mengelola informasi secara lebih aktif.
Setiap kegiatan Hima PGSD memerlukan publikasi yang objektif, jelas, dan mudah dipahami, terutama bagi mahasiswa di lingkungan Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan.
Karena itu, kemampuan jurnalistik menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki oleh pengurus organisasi mahasiswa.
Ketua Hima PGSD Umsida dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk mengaktifkan kembali kanal informasi Hima.
Menurutnya, publikasi kegiatan organisasi tidak boleh hanya bergantung pada dokumentasi visual, tetapi juga harus diperkuat dengan tulisan yang mampu menjelaskan makna, tujuan, dan dampak dari setiap program kerja.
Zakhfa Tekankan Pola Piramida Terbalik

Pelatihan ini menghadirkan Zakhfa, bagian dari tim jurnalistik Reaksi Umsida, sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Zakhfa menjelaskan bahwa jurnalistik bukan sekadar aktivitas menulis, melainkan juga proses berpikir kritis dalam melihat sebuah peristiwa.
Seorang penulis berita harus mampu memilah informasi penting, menentukan sudut pandang, serta menyusun fakta secara runtut dan bertanggung jawab.
Zakhfa memberikan materi dasar mengenai struktur penulisan berita yang benar. Salah satu konsep utama yang disampaikan adalah pola piramida terbalik. Dalam pola ini, informasi paling penting diletakkan pada bagian awal berita atau lead. Setelah itu, penulis dapat menambahkan informasi pendukung, lalu menutup berita dengan keterangan tambahan.
Pola tersebut dinilai penting karena pembaca umumnya ingin segera mengetahui inti berita sejak paragraf pertama.
Dengan menggunakan struktur piramida terbalik, berita menjadi lebih efektif, padat, dan mudah dipahami.
Zakhfa juga menekankan bahwa lead harus memuat unsur dasar 5W1H, yakni siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana.
“Berita yang menarik untuk dibaca pembaca adalah berita yang judulnya menarik,” ujar Zakhfa di sela-sela pemaparan materinya.
Selain membahas struktur berita, peserta juga diajarkan cara menentukan angle atau sudut pandang berita.
Zakhfa menjelaskan bahwa sebuah peristiwa dapat ditulis dari berbagai sisi, tetapi penulis harus memilih sudut pandang yang paling kuat, relevan, dan memiliki nilai berita.
Dengan begitu, artikel yang dihasilkan tidak hanya menjadi laporan kegiatan, tetapi juga memiliki daya tarik bagi pembaca.
Praktik Menulis Jadi Ruang Evaluasi Bersama
Pelatihan Dasar Jurnalistik ini tidak hanya berisi penyampaian teori. Kegiatan disusun dengan pendekatan partisipatif agar peserta dapat langsung mempraktikkan materi yang telah diterima.
Setelah sesi pemaparan, peserta diminta membuat artikel berita sederhana berdasarkan peristiwa yang terjadi di sekitar area kampus.
Dalam sesi praktik tersebut, Zakhfa mendampingi peserta secara langsung.
Ia membantu peserta menyusun kalimat yang efektif, memilih diksi yang tepat, serta memastikan penggunaan kata baku sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
Peserta juga diarahkan untuk menghindari kalimat yang bermakna ganda atau ambigu agar berita yang ditulis tidak menimbulkan salah tafsir.
Suasana pelatihan berlangsung tertib dan kondusif. Pemilihan lokasi di GKB 7 Lantai 3 Kampus 3 Umsida memberikan suasana akademik yang mendukung peserta untuk fokus mengikuti materi dan praktik penulisan.
Para peserta terlihat aktif bertanya, berdiskusi, dan memperbaiki tulisan berdasarkan masukan dari narasumber.
Pada sesi akhir, beberapa karya peserta dievaluasi bersama. Poin evaluasi yang ditekankan meliputi ketepatan dalam membuat judul yang menarik namun tetap jujur, kekuatan lead, kesesuaian struktur berita, serta objektivitas dalam menyampaikan fakta.
Evaluasi ini menjadi bagian penting agar peserta memahami bahwa berita yang baik tidak hanya menarik, tetapi juga harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui kegiatan ini, Divisi Dikbud Hima PGSD Umsida berkomitmen menjadikan literasi jurnalistik sebagai budaya organisasi.
Pascapelatihan, anggota Hima diharapkan mampu mengelola buletin atau portal berita mahasiswa secara mandiri dengan standar penulisan yang lebih baik.
Kegiatan ditutup pada sore hari dengan sesi foto bersama dan penyerahan sertifikat apresiasi kepada narasumber.
Dengan berakhirnya agenda ini, Hima PGSD periode 2025–2026 memiliki bekal teknis untuk memulai program kerja publikasi artikel berita secara rutin, terarah, dan berkelanjutan.
Penulis: Laudya
Editor: Nabila Wulyandini
















