pgsd.umsida.ac.id — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) saat ini berada di tengah perubahan besar dunia pendidikan dasar.
Calon guru SD tidak lagi cukup hanya memahami teori pembelajaran, tetapi juga harus mampu merancang pengalaman belajar yang bermakna, interaktif, dan sesuai kebutuhan murid.
Perubahan ini terlihat dari menguatnya agenda digitalisasi pembelajaran, pembelajaran mendalam, serta penguatan kompetensi guru yang sedang menjadi perhatian dalam kebijakan pendidikan nasional.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus mendorong digitalisasi pembelajaran, termasuk pada jenjang SD.
Salah satu bentuknya ialah pemanfaatan Interactive Flat Panel atau Papan Interaktif Digital untuk membuat proses belajar mengajar lebih menarik, interaktif, dan efektif, termasuk di wilayah 3T.
Bagi PGSD, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa calon guru harus siap mengajar di kelas yang semakin dekat dengan teknologi.
Selain digitalisasi, pendekatan pembelajaran mendalam juga menjadi isu penting. Kemendikdasmen menekankan bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya mengejar banyaknya materi, tetapi memastikan murid benar-benar memahami apa yang dipelajari melalui prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Kondisi ini menuntut mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) lebih serius mempelajari cara mengelola kelas, memilih media, menyusun pertanyaan pemantik, serta merancang asesmen yang tidak sekadar mengukur hafalan.
Calon Guru Harus Adaptif
Perubahan tersebut berdampak langsung pada cara mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menyiapkan diri. Calon guru SD perlu menguasai kemampuan pedagogik, literasi digital, komunikasi, kreativitas, dan pemahaman karakter anak.
Di sekolah dasar, murid membutuhkan pembelajaran konkret. Karena itu, teknologi tidak boleh hanya digunakan sebagai tampilan menarik, tetapi harus membantu murid mengamati, mencoba, berdiskusi, bergerak, dan menyimpulkan pembelajaran.
Tantangannya, tidak semua sekolah memiliki kondisi yang sama.
Ada sekolah yang sudah memiliki perangkat digital memadai, tetapi ada pula sekolah yang masih terbatas dari sisi fasilitas, jaringan, maupun kesiapan guru.
Mahasiswa PGSD perlu belajar membuat dua jenis rancangan sekaligus: rancangan berbasis teknologi dan rancangan sederhana yang tetap efektif tanpa bergantung pada alat digital. Inilah kemampuan adaptif yang semakin dibutuhkan.
Isu profesionalisme guru juga menjadi perhatian. Kemendikdasmen melalui transformasi Pendidikan Profesi Guru mendorong lahirnya guru yang profesional, kompeten, dan mampu merangkul keberagaman peserta didik.
Bagi mahasiswa PGSD, hal ini berarti proses kuliah tidak dapat hanya berorientasi pada tugas akademik.
Mereka perlu banyak berlatih menyusun modul ajar, membuat LKPD, melakukan simulasi mengajar, menyusun rubrik, serta merefleksikan praktik pembelajaran.
Praktik PGSD Perlu Diperkuat

Situasi saat ini menunjukkan bahwa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) memiliki posisi strategis dalam menyiapkan guru SD masa depan.
Mahasiswa perlu diberi ruang lebih luas untuk melakukan praktik pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berdiferensiasi, literasi numerasi, penggunaan media digital, dan penguatan karakter.
Dengan latihan tersebut, calon guru akan lebih siap menghadapi kelas nyata yang berisi murid dengan kemampuan, minat, dan kebutuhan belajar berbeda.
Kegiatan seperti Pengenalan Lapangan Persekolahan, microteaching, observasi kelas, dan praktik membuat media pembelajaran menjadi semakin penting.
Melalui kegiatan itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dapat melihat langsung bahwa mengajar bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga membaca situasi kelas, mengatur interaksi, memilih strategi, dan memastikan murid terlibat aktif.
Kondisi ini juga membuat kampus penyelenggara PGSD perlu memperkuat kurikulum internal.
Mata kuliah perencanaan pembelajaran, strategi belajar, media pembelajaran, asesmen, dan praktik mengajar harus benar-benar diarahkan pada persoalan nyata di sekolah dasar.
Mahasiswa tidak cukup diminta membuat perangkat pembelajaran di atas kertas. Mereka perlu diuji melalui praktik, umpan balik, revisi, dan refleksi agar mampu melihat kelemahan rancangan yang dibuat.
Dengan demikian, isu yang terjadi saat ini bukan hanya tentang perubahan teknologi, tetapi tentang kesiapan PGSD menjawab kebutuhan pendidikan dasar yang makin kompleks.
Calon guru harus mampu mengajar dengan hati, berpikir sistematis, dan tetap lentur menghadapi kondisi kelas yang berbeda-beda.
Tanpa penguatan itu, lulusan PGSD berisiko hanya siap secara administratif, tetapi belum cukup siap menghadapi dinamika pembelajaran nyata di sekolah dasar.
Penulis: Nabila Wulyandini
















