pgsd.umsida.ac.id — Sebanyak sebelas mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar PGSD Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Umsida melaksanakan Pengenalan Lapangan Persekolahan PLP I di SD Muhammadiyah 5 Porong pada April 2026.
Kegiatan ini menjadi tahap awal bagi mahasiswa calon guru untuk mengenal budaya sekolah, manajemen pembelajaran, karakter siswa, serta praktik profesional pendidik secara langsung.
Mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini ialah Adelia Nur Rohma, Ana Oktavia Ramadhani, Chalimatus Hawa Azzahro, Dwi Sri Wahyuningsih W, Intan Nur Amalia Zahwa, Mely Oktavia, Ninda Laila Rakhma, Regita Nur Safitri, Risma Elysandiyah, Salwa Namira Firdausyah, dan Samrotun Ni’mah.
Mereka didampingi Dosen Pembimbing Lapangan Mahardika Darmawan Kusuma Wardana M.Pd.
Kedatangan mahasiswa disambut Kepala SD Muhammadiyah 5 Porong Daris Sambiono M.M. Pihak sekolah memberikan ruang observasi agar mahasiswa memahami kehidupan sekolah secara utuh, bukan hanya proses mengajar di kelas.
Selama kegiatan, mahasiswa juga memperoleh arahan dari guru pamong Wulandari Ningsih M.Pd. terkait manajemen kelas, penyusunan perangkat ajar, dan strategi menghadapi keberagaman karakter peserta didik.
Bagi mahasiswa PGSD, pengalaman ini penting karena PLP I tidak berhenti pada pencatatan data.
Mereka belajar membaca suasana kelas, memahami pola komunikasi guru dengan siswa, serta melihat bagaimana kebijakan sekolah diterapkan dalam kegiatan harian.
Kultur Islami dan Prestasi Siswa
Hasil observasi menunjukkan bahwa SD Muhammadiyah 5 Porong memiliki kultur sekolah yang kuat.
Nilai keislaman tidak hanya diajarkan sebagai materi, tetapi dibiasakan melalui aktivitas harian.
Siswa terbiasa melaksanakan shalat dhuha dan shalat berjamaah dengan tertib. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan karakter berjalan seiring dengan proses akademik.
Selain aspek religius, mahasiswa juga mengamati kedisiplinan, kejujuran, sopan santun, dan interaksi sosial siswa.
Hubungan antarwarga sekolah tampak terbangun melalui kegiatan bersama, salah satunya program Jumat Sehat dan Bersih.
Program ini melibatkan siswa, guru, dan warga sekolah dalam menjaga kebersihan serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
Pada aspek akademik, siswa kelas 5 dinilai memiliki kemampuan numerasi yang cukup baik sebagai bekal menuju kelas 6.
Namun, mahasiswa juga mencatat bahwa kemampuan literasi masih perlu terus diperkuat, terutama dalam pemahaman bacaan.
Catatan ini menjadi masukan penting karena literasi berpengaruh langsung terhadap kemampuan siswa memahami soal, instruksi, dan materi lintas pelajaran.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa karakter siswa yang beragam bukan menjadi hambatan utama, selama guru mampu mengelola kelas dengan pendekatan yang sabar, komunikatif, dan konsisten.
Potensi nonakademik siswa juga mendapat perhatian sekolah. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti Hizbul Wathan, Tapak Suci, sepak bola, dan panahan menjadi wadah pengembangan minat bakat.
Beberapa kegiatan tersebut bahkan telah menghasilkan prestasi, sehingga sekolah tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan kepercayaan diri dan karakter siswa.
Fasilitas Digital Perkuat Pembelajaran

Dalam bidang pengelolaan kurikulum, SD Muhammadiyah 5 Porong menerapkan Kurikulum Merdeka yang dipadukan dengan kurikulum khas Muhammadiyah.
Perpaduan ini membuat pembelajaran tetap mengikuti kebijakan nasional sekaligus mempertahankan identitas keislaman sekolah.
Evaluasi kurikulum dilakukan secara berkala melalui supervisi internal dan koordinasi manajemen sekolah.
Sarana prasarana yang tersedia juga mendukung pembelajaran modern. Enam ruang kelas telah dilengkapi proyektor LCD, Smart TV, serta akses sumber belajar digital.
Perpustakaan dan Unit Kesehatan Sekolah UKS telah berfungsi dengan baik. Sementara itu, laboratorium sains masih dalam proses penyelesaian pembangunan.
Sekolah juga membentuk Komunitas Belajar sebagai ruang bagi guru untuk berbagi praktik baik, mendiskusikan kendala pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi.
Upaya ini menunjukkan bahwa mutu pembelajaran dijaga melalui kerja kolektif, bukan hanya tanggung jawab individu guru.
Dengan demikian, sekolah menyediakan lingkungan belajar yang lengkap bagi siswa dan calon guru untuk berkembang secara langsung.
Mahasiswa turut mengamati kesiapan guru dalam mengajar. Sebelum pembelajaran, guru menyiapkan perangkat ajar, membuka kelas dengan doa dan lagu kebangsaan, serta menggunakan ice breaking untuk membangun konsentrasi siswa.
Pada kegiatan inti, guru memanfaatkan buku teks, LKPD, video animasi edukatif, dan diskusi kelompok.
Model pembelajaran yang diterapkan mendorong siswa aktif bertanya, berdiskusi, melakukan percobaan, dan mempresentasikan hasil kerja kelompok.
Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses belajar. Dari kegiatan ini, mahasiswa PGSD Umsida memperoleh gambaran bahwa menjadi guru membutuhkan kesiapan pedagogis, kemampuan komunikasi, kepekaan terhadap karakter siswa, serta komitmen membangun sekolah yang religius, adaptif, dan bermutu.
Penulis: Tim PLP 1
Editor: Nabila Wulyandini

















