pgsd.umsida.ac.id — Masfufatul Dwi Vitalestari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), berhasil meraih juara dua dalam ajang Surabaya City of Heroes Championship 2026. Kompetisi yang mempertemukan atlet dari berbagai perguruan tinggi dan daerah tersebut berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di GOR Jala Krida Wacana, Perak, Surabaya.
Mahasiswi yang akrab disapa Vita itu lahir di Pasuruan, 10 Juli 2006. Saat ini, ia menempuh semester lima dan aktif dalam Himpunan Mahasiswa PGSD selama dua periode serta Tapak Suci Umsida.
Bagi Vita, kejuaraan tersebut bukan hanya ruang mengejar medali, tetapi juga menguji teknik, strategi, mental bertanding, dan sportivitas. Setiap lawan memiliki karakter berbeda sehingga diperlukan konsentrasi penuh sepanjang pertandingan.
“Alhamdulillah, pada kejuaraan ini saya berhasil meraih Juara 2. Bagi saya, pencapaian ini menjadi pengalaman yang sangat berharga sekaligus motivasi untuk terus berlatih, memperbaiki kemampuan, dan meraih prestasi yang lebih baik di kejuaraan berikutnya,” ungkap Vita.
Persiapan Singkat, Latihan Tetap Maksimal
Menjelang pertandingan, Vita hanya memiliki waktu persiapan sekitar satu minggu. Meski singkat, ia berusaha memanfaatkan setiap sesi latihan maksimal. Latihan intens dilakukan mulai Senin hingga Kamis dengan fokus pada teknik, fisik, strategi bertanding, serta sparring untuk mengembalikan ritme pertandingan.
Dua hari menjelang pertandingan, Vita tetap melakukan latihan mandiri di rumah. Ia mengulang teknik yang telah dipelajari, menjaga kondisi tubuh, serta menyiapkan mental agar lebih siap memasuki arena.
“Persiapannya memang cukup singkat, sekitar satu minggu sebelum pertandingan. Saya berusaha memaksimalkan latihan teknik, fisik, dan sparring. Selain itu, saya juga mengatur waktu istirahat dan pola makan agar kondisi tubuh tetap prima,” jelasnya.
Tantangan lain datang dari kesibukannya sebagai mahasiswa. Ia harus membagi waktu antara kuliah, tugas, organisasi, dan latihan Tapak Suci. Menurutnya, menjaga kondisi fisik sekaligus mengelola tekanan mental menjadi bagian.
“Tantangan terbesar adalah membagi waktu antara kuliah, tugas, organisasi, dan latihan. Saya juga harus mengendalikan rasa gugup dan tekanan ketika bertanding supaya tetap bisa tampil maksimal,” katanya.
Tetap Fokus di Tengah Pertandingan Ketat
Ketika pertandingan berlangsung, Vita mengaku sempat gugup karena lawan yang dihadapi memiliki kemampuan baik. Jalannya laga berlangsung ketat, bahkan beberapa situasi muncul di luar prediksi.
Meski demikian, ia memilih berpegang pada strategi yang telah disiapkan selama latihan. Menjaga fokus menjadi kunci agar tekanan pertandingan tidak mengganggu pengambilan keputusan di arena.
“Selama pertandingan tentu ada rasa gugup. Ada beberapa momen yang di luar prediksi, tetapi saya berusaha tetap fokus pada strategi yang sudah dilatih sebelumnya. Alhamdulillah, semua usaha tersebut bisa memberikan hasil terbaik,” ujarnya.
Capaian juara dua itu juga tidak terlepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya. Vita menyebut keluarga, teman, pelatih, dan rekan Tapak Suci Umsida terus memberikan semangat sejak persiapan hingga pertandingan selesai. Dukungan kampus turut menambah motivasinya membawa nama baik Umsida.
“Alhamdulillah, saya mendapatkan dukungan yang besar dari keluarga, teman-teman, pelatih, dan rekan-rekan Tapak Suci Umsida. Dari pihak Umsida juga memberikan dukungan dan apresiasi, sehingga saya semakin termotivasi untuk memberikan hasil terbaik,” tuturnya.
Evaluasi untuk Menatap Kejuaraan Berikutnya
Setelah kompetisi tersebut, Vita tidak ingin berhenti pada capaian juara dua. Ia berencana kembali mempersiapkan diri mengikuti kejuaraan berikutnya bersama Tapak Suci Umsida. Fokus utamanya adalah memperbaiki kekurangan yang ditemukan selama pertandingan sebelumnya.
Ia juga ingin meningkatkan teknik, menjaga kondisi fisik, serta membangun kesiapan mental yang lebih matang. Menurutnya, setiap kompetisi memberikan bahan evaluasi dan menjadi bagian penting dari proses berkembang sebagai atlet.
“InsyaAllah setelah ini saya akan kembali mempersiapkan diri untuk kejuaraan-kejuaraan berikutnya. Fokus saya sekarang meningkatkan kemampuan, memperbaiki kekurangan dari pertandingan sebelumnya, dan mempersiapkan diri agar bisa tampil lebih baik,” jelas Vita.
Ia berharap mahasiswa Umsida tidak ragu mengembangkan potensi di luar bidang akademik. Menurut Vita, menjadi mahasiswa sekaligus atlet memang membutuhkan disiplin dan kemampuan mengatur waktu, tetapi keduanya tetap dapat dijalankan secara seimbang.
“Jangan takut mencoba atau mengikuti kompetisi karena setiap pengalaman pasti memberikan pelajaran yang berharga. Semoga semakin banyak mahasiswa Umsida yang berani mengembangkan potensinya, baik di bidang akademik maupun nonakademik, sehingga bisa mengharumkan nama kampus di berbagai ajang prestasi,” pungkasnya.
Penulis: Nabila Wulyandini















